Showing posts with label #monologue. Show all posts
Showing posts with label #monologue. Show all posts

July 21, 2014

Percakapan tentang Masa Depan

Kadang rasanya ingin sekali pergi jauh dari sini. Ada perasaan jengah dan penat berada di negeri yang penuh hiruk pikuk ini. Namun, rasa-rasanya itu tak mungkin. Niat itu selalu saya urungkan. 

Suatu ketika saya pernah ditanya oleh seorang teman,

Teman: Lalu apa yang membuatmu berat untuk meninggalkan negeri ini?

Saya: Ada satu dan lain hal yang tidak bisa saya tinggalkan. 

Teman: Sekarang kan sudah serba online, semua bisa dikerjakan jarak jauh.

Saya hanya tersenyum.

Teman: Kalau boleh tau, apa sih?

Saya: Adalah pokoknya. 

Teman: Apa? Keluarga? Kekasih? Nggak  bisa LDR ya?

Lagi-lagi saya tersenyum mendengarnya. Klise sekali.

Saya: It's even bigger than that. 


Cukup saya, dia dan dia yang lainnya yang tahu. Biarkan semesta berkonspirasi. 


September 15, 2013

16/9


Setahun yang lalu, di hari yang sama dengan hari ini.


May 24, 2013

Winter in Spring


kindly send my regards to winter.
Miss the warm spring,
but never been yet in summer.

(2013)

January 19, 2013

Let me go




Everyone who's in your life are meant to be in your journey, 
but not all of them are meant to stay.

August 3, 2012

Padamu Jua

"Panca indraku tak sanggup menjangkau. Tapi padamu jua aku percaya, aku ada karna kau pun ada. Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mencintaimu, melebihi engkau mencintaiku, karena fana selamanya tak akan bisa bersatu dengan keabadian. " 
- Aku yang hina

April 30, 2012

Toleransi Sejak Dini!


Haruskah aku memusuhi mereka yang bukan Islam dan sampai hatikah Tuhan memasukkan mereka ke dalam neraka?

Pertanyaan di atas adalah salah satu dari sub judul dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Membaca judul ini rasanya miris. Selama 20 tahun saya hidup di dunia ini saya berteman dengan berbagai macam latar belakang. Tidak pernah sekali pun kata musuh keluar dari mulut saya karena perbedaan itu.

Sejak SD hingga SMA saya mengenal perbedaan, namun tak pernah mempermasalahkannya. Sekolah saya memang menjunjung tinggi pluralisme, mungkin karena itu terdapat tujuh agama, saudara-saudara! Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, Kong Hu Chu dan Saksi Jehova. Dan semua agama tersebut difasilitasi dengan baik oleh pihak sekolah. 

Di satu lantai kami berbagi ruangan belajar dan ibadah. Ketika kami yang muslim sholat, mereka non-Islam pergi ke ruangan masing-masing untuk melakukan ibadah mereka, bersama guru atau para petinggi agama masing-masing. Ketika mata pelajaran agama, karena sistem di sekolah saya moving class, maka kami masuk ke ruangan agama masing-masing. Dan ketika mata pelajaran campuran, kami kembali membaur dan meninggalkan segala perbedaan itu. 

Sekolah juga pernah mengadakan acara Religion's Day sebagai pengenalan agama-agama bagi siswa. Tidak mendasar, hanya seperti apa yang dirayakan, sejarah dan cara beribadah oleh umat beragama lainnya. Saya juga pernah mengikuti kegiatan community service atau semacam bakti sosial. Kami para murid dibebaskan memilih tempatnya. Saya dan empat orang teman saya memilih sebuah gereja yang memiliki pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang kurang mampu. Kami di sana membantu tanpa mempermasalah perbedaan itu.

Tak hanya berbeda agama dan latarbelakang, sekolah saya juga menerima para murid 'istimewa', yaitu siswa dengan kebutuhan khusus, yang ditempatkan di kelas yang sama dengan saya. Menjijikan? Tidak. Bahkan saya pernah menjadi Observer mereka. Menulis apa saja yang mereka lakukan selama di Kelas dan melaporkannya pada guru. Mereka kadang lucu, kadang juga menjengkelkan. Sama sajalah dengan anak-anak pada umumnya. 


Apa yang Tak Mungkin?


Bagi kita
theist dan atheist bisa berkumpul
muslim dan kristiani bisa bercanda
artist dan atlit bisa bergurau
kafir dan muttaqien bisa bermesraan
... 
Ahmad Wahib dalam Sepotong Bait Puisi Perpisahan
(14 Agustus 1969)

Perbedaan berkumpul menjadi satu, 
dengan tetap mempertahankan perbedaannya. 
Apakah itu mungkin?

Toh, di mata Tuhan kita tetap sama. 

Manusia.

Apa yang tak mungkin?

Mengenal Wahib, Mengenal Islam dengan Kritis



Saya terus mengangguk-angguk tanda setuju. Buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib ini seperti mewakili apa yang selama ini menjadi kegundahan banyak orang, termasuk saya, tapi tidak berani diutarakan. Takut dianggap menyimpang, tabu atau bahkan lebih ekstrimnya ateis. 

Islam di negeri bernama Indonesia ini terpuruk. Ini hanya pendapat saya. Mungkin pernyataan itu bisa untuk renungan kita bersama. Apa yang sebenarnya salah. 

Saya sedih. Bukan Islam yang salah, saya tahu itu. Salah satu penyebabnya adalah masih banyak umatnya yang terjebak di masa lalu dan mereka tidak mau keluar dari sana. Apakah kalian semua menyadari itu?

October 23, 2011

aprender espaƱol


 te amo, te quiero.  I love you, I love you.
amar (to love) = querer (to want)

kalau mencintai, pasti menginginkan. Bukan begitu?
Posesif? Tidak juga. Memang seharusnya begitu.
saling mencintai dan saling menginginkan.

May 14, 2011

20


...Dan mungkin inilah waktunya. Saya harus melepaskan si angka satu di tempat satuan.
Kepala saya bercabang mulai hari ini.
Usia bertambah bukan berarti waktu masih mau meladeni. Jangan harap dia mau menunggu. Waktu itu kejam. Membunuh. Dia yang mengatur. Kita yang harus menurut. Waktu terus berjalan. Berkurang. Bukan bertambah. Mungkin saja sebentar lagi saya akan musnah dibuatnya.
Kata selamat di hari jadi, kadang menyindir. Mengingatkan atau bahkan terasa getir. Miris rasanya jika diselamati. Mengingatkan bahwa usia di dunia semakin singkat.
Jadi, ketika anda diselamati, apakah itu berarti diselamati untuk mati? Apa boleh bergembira? Berpesta pora?

Mati? Ah, terlalu dini berpikir tentang itu.

Itu kan rahasia. Saya pun tak tahu.

Saya saja belum jadi dewasa dalam arti sesungguhnya.

Catatan Hitam II


image
 

Bagian lain dari kehidupan saya yang berwarna kelabu. Hitam.

Ini benar-benar hitam. Maafkan saya, Tuhan.

Ini adalah sebuah kecurangan.

 

Gomennasai.

March 16, 2011



image
Pesan Moral: Jangan pernah meluapkan emosi anda, ketika "orang itu" sedang bad mood.

January 4, 2011


image
Frohes Weihnachten & Guten Rutsch ins kommende Jahr! – Sifa Ningrum

Senandung Awal Tahun


Di awal tahun yang berbahagia ini,
Aku ingin memulai kebahagian baru.

Lalu melanjutkan kebahagian-kebahagian lainnya,
yang tak terduga.

Tak sabar melalui hari-hari,
penuh dengan kejutan yang tak menentu.

aku ingin selalu berbahagia.
Lalu membagi kebahagiaan denganmu.
Dengan kalian semua.

Lupakan sejenak masa lalu,
Mari bersenandung sambil malu-malu.

(2011)

image
Terlalu banyak yang ingin ditulis. Tetapi masih gamang menggunakan windows live writer. kembali mengunakan OneNote 2007. Mencoba setia dengan yang lama.
image

“”

 

image
“Wann treffe ich erst mit dich?
Ich vergesse.
Erste mal bist du nur mein Freund.
Letzte Monat wird
er "Anfuhrungszeichen" habe.
Ich weiss nicht,
Was es am nachste Monat passieren will.
Vergisst es.
Vorbei
Ist
vorbei”
Sifa Ningrum, 2010

Autumn next year

image
Libur telah tiba.


Sekarang saya bisa mengatakannya dengan riang gembira. Lalalalala~
Deadline tanggal 4 terlewatkan begitu saja.Take home exam pertama dalam sejarah perkuliahan di Sastra Jerman UI. Analisis unsur-unsur intrinsik dalam novel Crazy karya Benjamin Lebert.It makes me freakin crazy. Blah blah blah.
Sebenarnya gampang, hanya saja malas karena bau liburan tercium dimana-mana. Tidak tertahan oleh godaan. Nafsu liburan selalu menggoda.
Tapi setiap menyalakan laptop selalu ingat si Benni, dicke Felix, dunne Felix, Florian, Troy dan Janosch. Ah, sungguh penghalang liburan. Saya menginginkan liburan. Benar-benar sangat mendambakannya. Rasanya ingin terbang ke penjuru dunia.
Saya ingin musim gugur segera tiba.

Lelah: 8 Oktober 2008

“Jaman-jamannya masa menggalau saya dan Galuh Anindita. Hari ini adalah hari terakhir penelitian – saya menyebut ini sebagai mini research. Hari ketiga ini saya sempat tumbang. Sempat ingin tidak meneruskan perjuangan, tapi mama selalu memberi dukungan. Jadi saya melanjutkan perjalanan. Kali ini sedikit melelahkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hari yang sangat melelahkan. Bukan main.
Saya ke Huta Bolon Simanindo, sebuah desa wisata di ujung Tuk Tuk, untuk menyaksikan tarian tradisional Batak. Tarian yang dipertunjukkan adalah tarian untuk menghantar kematian/ pemakaman.
Kebanyakan yang datang ke sini adalah wisatawan mancanegara. Maka itu saya menyempatkan diri untuk mewawancarai beberapa bule. Salah satunya adalah seorang wanita paruh baya dari London yang ternyata bekerja di Kedutaan Belanda di Jakarta. Membawa temannya yang berasal dari New Zealand. Banyak bertanya seputaran apa yang membuat mereka jauh-jauh datang ke Samosir ini.